"Bukan terang jika kita tak mengenal gelap"
ragam kisah yang telah aku temui kini semakin membuatku sadar. apapun ini, entah pahit ataukah manis yang tak terlupakan, itu semua adalah wujud dari keadilan-Nya. Ya., ke-a-d-i-l-a-n-Nya..!
Seorang "tokoh fiktif" yang turut memberi warna pada novel ke-2 karya "tere-liye" berulang kali memaparkan bahwa hidup ini adil.
Bagitu adilnya, namun sangat disayangkan aku seringkali tidak melihat, tidak mengerti di mana letak keadilan-Nya dalam perjalanan hidupku. Mungkin aku terlalu bebal. terlalu "bodoh". tapi aku tahu satu hal. malam ini aku meyakini satu hal, Dia sungguh bermurah hati. entah mungkin tembok "keegoisan"kah yang membuatku tak dapat melihat, apalagi untuk mengerti di mana letak keadilan-Nya..?? JIKA "Ya" itu adalah sebab dari keegoisan-keegoisan yang membuat aku nyaman dalam keterpurukan hingga tak mampu melirik nikmat-Nya yang amat menjanjikan ini, maka usaikanlah ya Allah. Cukup. Hati ini serasa ingin menerobos "dinding" penghalang itu.
Sahabat, lihatlah hamparan sawah yang suatu saat menguning. Pertanda bibit yang dulu mereka semai telah tiba saatnya untuk dituai. Ya, tentu adalah sebuah "episode" yang akan merekahkan senyuman para tani. Namun, ingatkah sahabat ketika harga pupuk "naik", kekeringan melanda, hama semakin tak terkendali..?? Coba bayangkan apa yang pertama kali muncul dalam benak mereka? Banyak yang akan melontarkan kata "MENGAPA". Mengapa harus begini, mengapa harus mereka yang merasakannya, mengapa terjadi lagi, atau mengapa-mengapa lainnya yang aku mungkin tak sanggup menjangkaunya. Sungguh, ilustarsi tersebut sebenarnya tak jauh berbeda dengan skenario yang sering aku alami.
lantas dengan "mengapa" bisakah permasalahan yang ada langsung "criiing..!" terselesaikan..??! Hm., sungguh ajaib jika sahabat menjawab "ya".
Detik ini dengan kesadaran dan penuh rasa syukur aku telah meruntuhkan "tembok' itu. Sebuah penghalang yang selama ini hanya membuatku "setia" melontarkan keluh kesah tanpa menyadari kehadiran nikmat-Nya.!
Tepat.! dugaan itu sungguh tepat, sahabat. kata "mengapa" bolehlah muncul sebagai umpan tuk berintropeksi diri agar aku tak terjerumus dua kali. "mengapa"ku juga kini akan terrangkai indah bersama "bagaimana" yang diteruskan dengan "tindakan nyata" tuk meraih kehidupan yang selama ini telah Dia janjikan.
Jatuh adalah wajar dalam sebuah perjalanan. Namun usahamu untuk bangkit adalah sebuah pilihan. Ya, pilihan yang akan menentukan kelanjutan perjalanan hidupmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar